Lahir di Athena pada tahun 470 SM. dan wafat pada tahun 399 SM. Ayahnya adalah seorang pembuat patung dan ibunya adalah seorang bidan. Ia sendiri membandingkan dirinya sesuai dengan pekerjaan orang tuanya itu, yaitu “memberi bentuk pada fikiran orang” serta mengusahakan “lahirnya gagasan-gagasan baru”.

Hampir setiap pembicaraan biografis tentang Sokrates dimulai dengan melukiskannya sebagai orang yang jelek penampilannya. Rupa dan parasnya tidak selaras dengan ukuran orang-orang Yunani; berbibir tebal, berkepala botak, berhidung lebar dan sedikit gemuk. Ia seolah-olah hantu yang setiap hari berkeliaran di kota Athena, menelusuri jalan-jalan, pasar-pasar dan alun alun, dimana ia bisa menemui manusia dan diajak bercakap-cakap. Ketika ia ditanya tentang dirinya yang jarang ke luar kota, ia menjawab, “padang rumput dan pohon kayu tidak memberiku palajaran apapun, kecuali manusia”. Ia mengenal manusia dengan caranya yang terkenal yaitu bertanya-tanya tentang segala sesuatu sampai ke akar-akarnya. Sekedar menguji sejauh mana pengetahuan mereka yang diajak bertanya jawab itu.

Pemuda-pemuda pada masa ini dipimpin oleh doktrin relativisme dari kaum “sofis”(perlu dibedakan dengan kaum Sufi yang ada dalam tradisi Tasawuf muslim). Sedangkan Sokrates adalah seorang penganut moral absolut dan meyakini bahwa menegakkan moral adalah tugas seorang filosof, berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.

Hidup Sokrates dan para kaum sofis sulit dipisahkan. menurut Cicero ada persamaan pendapat antara keduanya. Sokrates memindahan filsafat dari langit ke bumi, artinya sasaran yang diselidiki bukan lagi jagat raya, melainkan manusia. Begitu pula kaum sofis. Itulah sebabnya (mungkin) Aristhopanes menyebutnya seorang sofis. Sekalipun demikian, ada perbedaan yang mendasar antara Sokrates dan kaum sofis. Sokrates adalah reaksi dan suatu kritik terhadap pemikiran kaum sofis itu sendiri.

Sofisme sebenarnya bakanlah suatu mazhab, melainkan suatu aliran, suatu gerakan dalam bidang intelektual. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor pada masa itu.

Dibawah pemerintahan Perikles (429 SM.) Athena berkembang dengan pesat, filsafat mengalami kemajuan. Pada waktu itulah para guru mulai berkeliling, juga di Athena. mereka mengajarkan matematika, astronomi dan bahasa. Dalam suasana yang demokratis bahasa adalah alat politik.

Sebutan “sofis” mengalami perkembangan tersendiri. Sebelum abad ke-5 istilah itu berarti: sarjana atau cendikiawan. Seperti Thales (625-545 SM.), Anaximandros (610-540), Phytagoras (580-500) dan lain-lain. Pada awal abad ke-4 sebutan tersebut diganti dengan “filosofos”, filsuf, dan sofis diartikan: guru yang berkeliling untuk mengajar dari kota ke kota. Pada akhirnya sebutan ini tidak harum lagi, karena seorang sofis adalah “orang yang menipu orang lain dengan memakai alasan-alasan yang tidak sah”, dan mereka pun meminta uang bagi ajaran mereka.

Sokrates sempat menyaksikan keruntuhan Athena oleh kekalahan orang-orang oligarki dan orang-orang demokratis. Kekuasaan demokratis hancur dan digantikan oleh kesombongan dan tirani. Tahun 403 SM. demokrasi untuk terakhir kali dicoba untuk dibangun. Tetapi itu bukanlah pemerintahan yang bijaksana, dibawah sposor merekalah pada tahun 399 SM. Sokrates dihukum mati dengan meminum racun atas tuduhan: merusak pemuda dan menolak Tuhan-tuhan negara.

Pandangan-pandangan Sokrates

1. Tentang kebenaran

Pada waktu itu guru-guru sofis mengajarkan bahwa “kebenaran yang sebenar-benarnya tidak ada”, maka “setiap pendapat bisa dibenarkan dengan retorika”. tergantung kepada manusia itu sendiri. Sedangkan menurut Sokrates ada kebenaran objektif yang tidak bergantung kepada saya atau kita, untuk membuktikannya Sokrates menggunakan metode-metode tertentu yang praktis dan dijalankan melalui percakapan. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang salah-tidak salah, benar-tidak benar, adil-tidak adil, berani dan pengecut, dan lain-lain. Sokrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis dan menarik konsekwensi-konsekwensi yang disimpulkan dari jawaban selanjutnya. Jika ternyata hipotesis yang pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan kosekwensi yang mustahil, maka hipotesis tersebut diganti dengan hipottesis yang lain. Seringkali perdebatan ini berakhir dengan kebingungan (aporia), tapi tak jarang ia menghasilkan defenisi yang berguna. Tujuan utamanya adalah untuk meruntuhkan kesombongan guru-guru sofis yang telah mendangkalkan pengetahuan dan melemahkan tanggungjawab. Lalu Socrates akan mengunci pembicaraan dengan kata-kata,”Demikianlah adanya, kita berdua sama-sama tidak tahu.

Metode yang digunakan oleh Sokrates biasa disebut dialektika, dari kata kerja Yunani dialegesthai, yang artinya bercakap-cakap atau berdialog. Sebutan yang lain adalah mientika atau seni kebidanan, karena dengan cara ini Sokrates bertingkah seperti seorang bidan yang menolong kelahiran bagi “pengertian yang sejati”.

Didalam traaktatnya tentang metafisika, Aristoteles memberikan catatan mengenai metode Sokrates ini. Ada dua penemuan yang menyangkut Sokrates, keduanya berkenaan dengan dasar pengetahuan, yang pertama ia menemukan induksi, yang kedua ia menemukan defenisi.

2. Tentang rasa dan jiwa

Suatu ketika Sokrates ditanya orang,”apa yang selalu menyebabkannya bersemangat dan jarang sedih. Sokrates menjawab, “Karena saya tidak mencari hal-hal yang kalau hilang akan membuat saya sedih”.

Jadi menurut Sokrates jiwa manusia bukanlah nafasnya semata-mata, tapi jauh lebih dalam (yaitu perasaan), Karena jiwa adalah intisari manusia, sehingga manusia wajib mengutamakan kebahagiaan jiwanya (eudaimonia= memilih daimon atau jiwa yang baik).

Bila diperhatikan isi “Apologia (Pidato Pembelaan Sokrates yang Diabadikan Plato)”, Tampak jelas bahwa Sokrates sebenarnya tidak hanya mengandalkan pendapatnya pada akal (reason) tetapi juga pada kekuatan hati (lihat Fuad Hassan, 1973:52-53)

“Sekarang tuan-tuan ikutilah aku menguji ketidaktetapan orang ini; dan kau Miletus, jawablah. Apakah ada orang yang percaya hal-hal manusiawi tanpa percaya pada manusia? Adakah orang yang percaya pada kemahiran memacu kuda tanpa percaya adanya kuda? Atau permainan seruling tanpa adanya seruling?

Tidak, sahabatku. Ku berikkan jawaban ini bagimu dan bagi sidang pengadilan ini. Dapatkah orang percaya pada lembaga-lembaga kerohanian dan kesucian tanpa percaya pada adanya roh-roh kudus? Tidak mungkin. Aku percaya pada hal-hal kerohanian, mutlak pula bagiku percaya adanya roh-roh atau dewa-dewa. Kalau roh-roh itu adalah putra Tuhan maka aku harus percaya pula adanya Tuhan”.

3. Tentang Etika

Budi adalah tahu kata Sokrates, inilah intisari etikanya. Orang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik, orang yang mengetahui hukum tentu mentaatinya. Oleh karena budi berdasarkan pengetahuan, maka budi dapat dipelajari. Dari ucapan tersebut terlihat bahwa ajaran etika Sokrates bersifat intelektual dan rasional.

Dari pandangan etik yang rasionil tersebut Sokrates sampai kepada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, menderita kezaliman itu lebih baik daripada berbuat zalim. Sikap itu diperlihatkannya dengan kata dan perbuatan.Dan dalam pembelaanya di muka Hakim Terlihat Sokrates orang yang percaya dengan adanya Tuhan. Menurut kata teman-temannya: Sokrates demikian adilnya sehingga ia tak pernah berlaku zalim. Ia begitu pandai menguasai dirinya sehingga ia tak pernah memuaskan hawa nafsu dengan merugikan kepentingan umum. Ia demikian cerdiknya sehingga tak pernah khilaf dalam menimbang baik dan buruk. Pada akhir hayatnya (setelah meminum racun) ia meninggalkan pesan yang penghabisan,”Crito aku berhutang seekor ayam kepada Aesculaap, jangan lupa mebayarnya kembali_.

“Inilah penghabisan hidup kawan kami, yang benar-benar dapat kusebut sorang yang paling bijaksana, paling adil dan terbaik diantara orang yang kukenal sampai sekarang”.

Demikian lukisan Plato tentang guru dan kawannya pada hari akhir penghabisannya.

Jakarta 22 April 1997

M. Makaarem al-Akhlaq

Daftar Bacaan
1. Alam Pikiran Yunani, Mohammad Hatta, Tintamas 1986.
2. Filsafat Umum, Dr. Ahmad Tafsir, Rosdakarya 1993.
3. Apologia, Prof. Dr. Fuad Hassan, Bulan Bintang 1973
4. Tahziib al-Akhlaq, Ibn Miskawaih (Terjemahan, Menuju kesempurnaan akhlaq, Mizan 1994)
5. Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Dr. Harun Hadiwijono, Penerbit Kanisius 1988.