Adalah sebuah pengalaman menarik ketika kita harus merasa kehilangan makna hidup, teralineasi dan berada dalam situasi marginal. Barangkali hanya ada dua kemungkinan yang akan dipilih sebagai jalan keluar: memaknai sebuah penderitaan sebagai bagian dari konsekwensi hidup, atau melarikah diri dari kehampaan itu dan beranjak pada beberapa hal yang diperkirakan menyelesaikan “peristiwa kehilangan makna hidup” ini. Keduanya sama; sama-sama berusaha “mencari ajaran hidup yang sebenarnya”.

Barangkali, substansi “pencarian makna/ajaran hidup” inilah yang disebut Aristoteles dengan eudaimonia, yaitu suatu bentuk kebahagiaan yang dicapai ketika potensi penuh seorang individu untuk sebuah kehidupan yang rasional sepenuhnya benar-benar terealisasi dan individu tersebut telah mengekspresikan semua kapasitasnya yang beraneka ragam dalam bentuk upaya keras untuk merealisasikan diri menjadi manusia yang essensial. (Kamus Filsafat, Tim Penulis Rosda, 1995)

Peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini misalnya, semakin menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya manusia berada dipuncak keterasingan, kehilangan essensi kemanusiaannya. Fenomena kekerasan, hilangnya kesadaran nurani akan nilai-nilai kebajikan, berhentinya keinginan untuk mewartakan bentuk kosmos yang kudus, adalah potret betapa compang-campingnya kesadaran manusia akan makna kebahagiaan (eudaimonia).

Eudemonisme sebagai prinsip kesadaran akan kebajikan

Kata “eudemonisme” berasal dari kata Yunani “eudaimonia” yang secara harfiah berarti: mempunyai roh pengawal (daimon) yang baik. Semula kata ini mengacu pada aspek lahiriah, kemudian lebih dititikberatkan pada suasana batiniah, dan dengan demikian mempunyai arti “bahagia”, dalam arti hidup berbahagia atau kebahagiaan. Kata ini menggambarkan perasaan senang terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan sebagai akibat pengetahuan mengenai penyelarasan diri. Orang yang telah mencapai tingkatan “eudaimonia” mempunyai keinsyafan akan kepuasan yang sempurna tidak hanya secara jasmani, melainkan juga secara rohani. (Prof. Dr. H. De Vos, 1969)

Hal yang terakhir inilah yang membedakan antara eudemonisme dengan hedonisme, yang bertolak dari pendirian bahwa menurut kodratnya manusia mengusahakan kenikmatan (Yunani: hedone). Secara negatif hedonisme diungkapkan dalam bentuk menghindari rasa sakit dan secara positif dalam bentuk mengejar kenikmatan. Meskipun keduanya sama-sama bertolak dari pengalaman, eudemonisme hendak menjelaskan lebih jauh bahwa kebahagiaan adalah kebaikan tertinggi, bukan kenikmatan sebagaimana pandangan hedonisme.
Pandangan hedonisme pada awalnya mengidamkan kehidupan yang teramat baik, seperti seekor binatang peliharaan –yang oleh Schiller disebut hasrat akan perikebinatangan. Bukankah binatang tenggelam dalam arus sesaat dan tidak mengenal susah payah; tidak mengenal kebutuhan buatan yang harus dipenuhi, yang membutuhkan kerja keras; ia hidup secara tidak sadar, tidak harus menyelesaikan masalah-masalah.

Kehidupan seperti ini membuat iri manusia yang sarat dengan masalah, terombang-ambing antara harapan dan ketakutan, selalu berusaha memperbaiki tingkat kehidupan, kebebasan yang terbatas serta larangan yang banyak jumlahnya.

“Kebahagiaan” Selayang Pandang

Membicarakan kebahagiaan adalah hal yang fenomenologis, sulit dan membutuhkan energi luar biasa. Kebahagiaan bukanlah objek yang terlihat, dan kita hanya bisa “mengarahkan” mata rekan kita untuk bisa melihat kebahagiaan tersebut sebagaimana kita melihat dan menghayatinya.

Agama misalnya, menempatkan kebahagiaan hidup adalah ketika kita menjadi bagian dari keilahian; menjadi penganut agama yang taat dan berhubungan baik sesamanya. Pengorbanan dengan tujuan katharsisasi dengan hidup selibat, meninggalkan nafsu duniawi, mengorbankan harta dan raga untuk semata-mata mengabdi kepada-Nya dianggap memiliki “kebahagiaan” tersendiri. Hanya bagaimana agama menjelaskan dan “mengarahkan mata manusia” untuk menemukan-Nya masih sarat dengan “paksaan”. Agama menempatkan manusia yang tidak mencapai petunjuk-Nya –meskipun “berbahagia”– sebagai pendosa, dan akan mendapat siksa di kehidupan akhirat. Pertanyaan yang kemudian timbul, apakah sebuah kebahagiaan yang diinginkan Allah menjadi milik manusia kosong dari rasionalisasi dan mesti melalui wahyu sebagaimana dalam agama biblis?

Karl Jaspers menggugat kapercayaan terhadap agama yang membabibuta dan menjelaskan bahwa kepercayaan harus rasional, tidak anti reason dan khaos. kebahagiaan sejati ketika mendapat kepastian tentang Tuhan, mesti lahir dari keberanian untuk menyikapi agama dengan lebih dinamis. Jaspers menyebut sejumlah keberatan yang lazim dikemukakan terhadap agama dan menanggapinya dengan kritis:

1. “Adanya begitu banyak agama membuktikan bahwa tidak satu pun yang benar, sebab hanya ada satu kebenaran saja”. Tanggapan Jaspers: Keberatan itu hanya berlaku untuk isi pengetahuan agama dan bukan untuk tindak iman kepercayaan. Jangan dicampuradukkan ekspresi lahiriah dengan makna batiniah hidup beragama sendiri, sebagimana perkataan Nocolaus Cusanus: una religio in rituum varietate.

2. “Agama-agama telah membenarkan kekerasan, peperangan, dan korban manusia”. Jaspers mengharuskan untuk melihat fakta sejarah sebelum membuat penilaian. Banyak segi positif agama yang tidak bisa dilupakan seperti memperdalam kehidupan jiwa, mengatur hal ikhwal yang manusiawi, kegiatan amal dan lain-lain.

3. “Agama menimbulkan ketakutan yang semu. Ilusi-ilusi yang menyiksa jiwa. Siksaan neraka, murka Allah merupakan kengerian terlebih bagi orang yang menghadap ajal. Pembebasan dari agama membawa damai bagi pikiran dan ini berarti pembebasan dari khayalan-khayalan”. Bagi Jaspers keberatan ini tepat, sejauh yang dimaksud adalah takhyul, tapi semu jika diterapkan pada ketakutan yang khusus insani. Ketakutan eksistensial merupakan ciri khas yang mendalam pada manusia yang telah sadar. Damai di pikiran sebagai akibat penyangkalan terhadap neraka tidaklah cukup, tapi harus berakar pada keyakinan positif, pada suatu sikap dasar yang dimiliki jiwa, sehingga mengatasi ketakutan. Sebaliknya, dimana tidak ada ketakutan, manusia menjadi dangkal.

4. “Agama tidak peduli dengan perkembangan kebenaran, tidak bersifat kritis dan tidak mau mempersoalkan apa yang telah disajikan. Agama menciptakan ketaatan bodoh”. Jaspers berpendapat bahwa kurangnya kesadaran kritis yang terjadi dalam perkembangan agama di kemudian hari tidak harus ada pada agama asli pula. Kekurangan kesadaran kritis tidak berarti tidak peduli akan kebenaran.

5. “Agama menyatakan suci hal-hal yang sesungguhnya profan dan dibuat oleh manusia saja. Akibatnya agama cenderung hanya menghormati apa yang disebut suci itu sedangkan hal-hal yang lain tidak”. Kritik ini meurut Jaspers tidak berlaku untuk semua orang beragama, tapi berlaku untuk banyak perwujudan agama yang menyimpang.

Dengan demikian Karl Jaspers membuktikan bahwa secara filosofis agama menjamin manusia untuk menemukan kebahagiaan jika mengimaninya secara benar, filosofis dan sistematis. Arti hidup manusia terletak pada ketaatan terhadap hukum (dekalog) Allah yang telah diwahyukan.(Diskursus Kemasyarakatan Dan Kemanusiaan, 1993)

Menurut Teilhard de Chardin, masalah kebahagiaan berakar dari tiga sikap hidup, yaitu pesimis, hedonis dan antusias, yang menghasilkan tiga bentuk kebahagiaan yang berbeda tingkatannya: Pesimis adalah anggapan bahwa eksistensi adalah suatu kegagalan atau kesalahan. Sikap pesimis di sini oleh Teilhard lebih dikaitkan dengan kelesuan atau keengganan. Dalam filsafat Hindu, alam semesta dianggap ilusi atau penjara. Anggapan ini membawa implikasi pandangan bahwa “Lebih baik kurang daripada lebih; yang terbaik adalah tidak ‘ada’ samasekali. Sikap ini melahirkan bentuk “kebahagiaan dari ketenangan” (the happiness of tranquility). Dalam bentuk kebahagiaan ini, tidak ada kegelisahan, tidak ada beban, tidak ada usaha, kebutuhan ditekan dan cenderung untuk menarik diri ke dalam bilik. Orang yang bahagia adalah orang yang mendapat sedikit pemikiran, perasaan dan keinginan (atraxia).

Sikap hedonis berpandangan bahwa “ada lebih baik dari tidak ada”. Ada atau hidup tidak berarti berkegiatan (kreatif) tetapi hanya sekedar menikmati saat sekarang. Maka muncullah bentuk “kebahagiaan dari kesenangan” (the happiness of pleasure). Tujuan hidup bukan mencipta atau berbuat, tetapi menggunakan kesempatan. Orang yang berbahagia adalah orang yang menikmati hidup sampai tingkat paling tinggi, yaitu menikmati kesempatan yang ada.

Adapun sikap antusias menganggap hidup adalah suatu pendakian dan penemuan. Tipe ini tidak sekedar menganggap “ada lebih baik”, tetapi juga bersikap optimis dengan menekankan usaha yang lebih rasional. Sikap ini melahirkan “kebahagiaan yang tumbuh” (the happiness or growth). Kebahagiaan adalah akibat dari aksi yang terarah dengan tepat, hasil suatu usaha. Orang yang bahagia mendapatkan finalitas dari dirinya sendiri. (Majalah Driyarkara, Tahun XVI No.3 1990)

Kebahagiaan: Somewhere?

Dalam filsafat, ada dua pengertian kebahagiaan (happiness): pertama, Kebahagiaan adalah nada perasaan yang dapat dinikmati, yang mungkin berbeda-beda dalam intensitasnya, yang terkait dengan kehidupan seseorang atau aktivitas-aktivitas tertentu dalam kehidupannya; gembira, senang, beruntung, puas, diberkati, dikasihi, dll. Kedua, kebahagiaan adalah pencapaian nilai atau tujuan tertinggi dalam kehidupan tetapi ditafsirkan secara berbeda sebagai tercapainya kenikmatan, realisasi potensi diri, menjadi orang baik, terlaksananya kewajiban, mengikuti hukum alam, hidup dalam takaran sedang, bebas menentukan nasib sendiri secara rasional dll. (Kamus Filsafat, ibid)

Oleh karenanya, makna kebahagiaan sendiri sulit untuk dimutlakkan. Tidak aneh misalnya ketika kita temukan orang yang merasa bahagia dengan prilakunya yang merusak, menyakiti atau sebaliknya; memperbaiki dan membantu. Karena makna-ganda yang ada pada kata “bahagia”, maka biarlah makna bahagia tergantung pada manusia. Barangsiapa yang mengusahakan kebahagiaan, harus tahu apa kebahagiaan yang sebenar-benarnya; agar tidak sesat. Akan lebih tepat misalnya bila kita menganggap bahwa hidup adalah proses pencarian makna, tidak dengan menginjak harkat kemanusiaan orang lain dan melukai perasaan hukum yang berlaku. Wallahua’lam.

1996