Oleh: Mouvty Makaarim al-Akhlaq*

Seperti aktifitas manusia lainnya, agama dapat disalahgunakan,

Bahkan tampaknya justru itulah yang selalu kita lakukan.

Karen Armstrong, A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity an Islam

(Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi,

Kristen dan Islam selama 4,000 Tahun)

Kutipan di atas sebenarnya adalah gagasan yang akan direfleksikan dalam tulisan ini. Agama sebagai “aktifitas” atau usaha manusia untuk menemukan makna dan nilai kehidupan di tengah derita yang menimpa wujud kasatnya, menurut Armstrong tidak lebih dari kesimpulan dari pekerjaan merefleksikan “Tuhan”. Manusia sebagai Homo religius menyimpulkan penemuan diri-Nya yang Maha Baik dalam peniruan sikap dan sifat. Begitu pula ketika menemukan dirinya yang Maha Pemberi, manusia kemudian mengembangkan hasrat untuk bersyukur dan berterima kasih. Dengan gagasan ini, maka manusia menyimpulkan hasil refleksi terhadap Tuhan dalam citra yang bernama agama. Dalam prosesnya, manusia kemudian mengkonstruksi doktrin-doktrin, pandangan akan pahala dan dosa selama abad-abad awal agama untuk bisa diterima (mentah-mentah?) oleh manusia pada abad-abad berikutnya. Tuhan kemudian semakin “tertutupi” oleh agama yang disakralkan melebihi diri-Nya.

Iman kemudian tertuju pada agama, terkonsentrasi pada doktrin dan mazhab, yang bisa jadi sebenarnya muncul dari konflik kepentingan dan perbedaan metodologi interpretasi terhadap Tuhan –beserta kitab suci sabda-Nya– oleh penganut fanatik agama. Lebih jauh, kepemilikan terhadap Tuhan kemudian menjadi klaim agama tertentu, dimana penganut ajaran di luar agama tersebut dianggap bukan penyembah Tuhan. Maka peperangan dimulai, baik oleh mereka yang merasa tersingung oleh pernyataan “mereka yang telah memiliki Tuhan”, atau oleh para “pemilik Tuhan” yang merasa perlu membasmi kemungkaran para penyembah setan dan pengikut kesesatan diluar agamanya.

Thesis Armstrong di atas tentang fungsi agama yang bak ‘pisau bermata dua’, barangkali sudah lama menjadi pertanyaan di benak kita, terutama dengan melihat fenomena-fenomena kontradiktif yang muncul atas nama agama yang terus menerus terjadi. Kondisi “baik” terjadi ketika refleksi ketuhanan termanifestasikan sebagai hak individu, dimana manusia dibebaskan untuk memilih cara berimannya masing-masing. Sebaliknya, kondisi “buruk” terjadi ketika agama mulai tidak toleran, mengorek-ngorek luka-luka pertikaian antar komunitas penganutnya pada masa lalu, atau di suatu tempat, mengedepankan ayat-ayat “perang”, serta terjerumus menjadi alat kepentingan dan konflik. Dengan mudah agama kehilangan semangat kemanusiaannya dan manusianya kehilangan semangat ketuhanan. Dalam istilah Armstrong, Tuhan menjadi “figur historis” yang dilepaskan dari konteks keimanan penyembahnya yang telah “men-(T)uhan” melebihi diri Tuhan sendiri. Kuasa menentukan kebaikan dan keburukan “dirampas” dari-Nya semena-mena.

Sayangnya, kesadaran tersebut biasanya dengan segera terkubur karena faktor-faktor seperti pengabaian, sebab hal ini dianggap merupakan wilayah “paling sensitif” dalam agama, atau karena kita terjebak pada apologi-apologi tanpa kritisi untuk melindungi kenyamanan berkeyakinan yang diganggu gugat thesis ini. Kesadaran kritis dikhawatirkan  mengganggu ritme ritual yang sudah berjalan berabad-abad. Yang paling pahit, membangkitkan kesadaran kritis terhadap sikap beragama bisa-bisa menjadi bumerang bagi pelakunya, ibarat pawang yang membangunkan macan terlelap untuk memberi makan tetapi justru diterkam!

Problem Relasi Umat Beragama

Sebenarnya, agama merupakan keyakinan, menjadi label yang melekat pada manusia, sesuai dengan pengalaman penghayatan kehidupannya. Sehingga ketika seseorang menjadi penganut suatu agama, dengan serta merta dia bertanggungjawab menjalankan dimensi-dimensi yang terdapat dalam keyakinan yang dihayatinya,  termasuk bertanggungjawab untuk menjaga citra agamanya.

Antara kepentingan untuk menunjukkan keyakinan dan menjaga citra agama seringkali tidak seimbang. Seorang penganut agama yang menonjolkan keyakinan keagamaannya secara sporadis, egois dan menafikan keyakinan orang lain, cenderung lupa menjaga citra agamanya yang juga mengajarkan toleransi dan penghargaan. Keyakinan terhadap agama –lebih spesifik lagi keyakinan terhadap Tuhan– justru  memantulkan wajah agama yang angkuh, arogan dan kering dari citra Tuhan. Kondisi seperti ini kemudian berlanjut pada munculnya kondisi yang menggangu relasi umat beragama seperti kegiatan penyebaran agama yang “memaksa”, pengkafiran dan penghujatan terhadap keyakinan lain, serangan fisik terhadap penganut keyakinan lain, hingga usaha-usaha pemusnahan komunitas.

Padahal, keragaman sebenarnya adalah suatu fakta, sesuai dengan realitas sosial yang kita temukan. Sementara cita-cita penyeragaman dalam gagasan keagamaan kita –dengan semangat ekslusifisme– adalah pekerjaan menentang realitas sosial yang ada. Dengan kata lain, kehidupan manusia yang beragam adalah kenyataan yang tidak bisa diingkari, sehingga konsekuensi  yang muncul –semestinya– adalah kesadaran untuk berusaha menumbuhkan penghargaan terhadap situasi keragaman ini. Kalau pun ada kompetisi, semestinya adalah kompetisi yang alamiah, dimana manusia memilih untuk “beragama” atas dasar pilihannya sendiri. Bukankah yang penting adalah penghayatan terhadap Tuhan yang dimunculkan dalam sikap hidup yang ilahiah, dimana agama adalah sesuatu yang pragmatis sebagai jalan meretas hubungan dengan Tuhan.

Membangun Sikap Beragama yang Terbuka: Mungkinkah?

Dalam menutup pengantarnya, Armstrong kembali berujar, “Firman Tuhan telah membentuk sejarah kebudayaan kita. Kita harus memutuskan, apakah kata “Tuhan” masih memiliki makna bagi kita pada masa sekarang.” Saya kira Armstrong telah melempar suatu pertanyaan yang sungguh berat kepada kita semua tentang sejauhmanakah makna “Tuhan” bagi kita sekarang. Pertanyaan yang barangkali bukan semata-mata muncul dari kesadaran religius yang bersangkutan, tapi juga merupakan lirih keprihatinan terhadap realitas keimanan yang dangkal dan terdistorsi pada manusia modern. Lirih keprihatinan Armstrong terhadap keterkukungan manusia modern dalam dogma yang kaku, sempit  dan  melumpuhkan akal intuitif serta nalar logis dalam beragama.

Akibat keimanan yang dangkal dan terdistorsi, maka manusia modern kehilangan daya imajinatif keagamaan; suatu kemampuan untuk membayangkan Tuhan yang mengayomi semesta tanpa membeda-bedakan. Kebenaran yang dimunculkan sarat asumsi dan praduga. Karena akal intuitif dan nalar logis mengalami kelumpuhan, maka pengekangan dogma, asumsi dan praduga agama dengan leluasa muncul dan berkembang biak dengan subur. Spiritualitas kehilangan topangan keyakinan “yang serius” terhadap Tuhan.

Dalam relasi umat beragama, ketiadaan keyakinan “yang serius” terhadap Tuhan telah melahirkan perasaan terasing, terancam, praduga, dan tindak kekerasan. Betapa manusia sudah tidak lagi menciptakan keimanan terhadap Tuhan sebagai sesuatu yang penting untuk mencerahkan hubungan antar umat. Sebagai contoh, Armstrong mengutip data bahwa sembilan puluh persen penduduk Amerika Serikat mengaku beriman kepada Tuhan, namun bersamaan dengan itu muncul gejala fundamentalisme, apokaliptisisme dan berbagi bentuk religius kharismatik. Ditambah lagi angka kejahatan dan penyalah-gunaan obat yang meningkat, yang secara spiritual tidak menunjukkan tumbuhnya masyarakat yang sehat.

Di Indonesia, kematian “keimanan” barangkali belum sampai pada tingkat yang terlalu mengkhawatirkan. Namun gejala ke arah kesempitan pandangan dalam hal melihat perbedaan atau hubungan umat beragama masih terjadi, baik dalam skala kecil atau besar. belum jelas, apakah hal ini berakar dari keimanan yang dangkal dan terdistorsi atau kematian akal intuitif dan nalar logis. Saya tidak berani mengambil kesimpulan bahwa kita saat ini mengalami problem yang serius dalam relasi umat beragama. Yang saya rasakan, kita memang memiliki problem itu, diakui atau diingkari. Tinggal sejauhmana keinginan untuk mengungkap dan menyelesaikannya. Wallahu’alam

Jakarta, 3 Juli 2001


* Koord. Divisi Kajian & Monitoring KontraS, anggota Forum Dialog Generasi Muda Antar Iman dan Mantan Ketua I PC PMII Jakarta Selatan 1999-2000.