Oleh: Mouvty Makaarim al-Akhlaq*

Seperti aktifitas manusia lainnya, agama dapat disalahgunakan,

Bahkan tampaknya justru itulah yang selalu kita lakukan.[1]

Sungguh telah banyak pembicaraan tentang agama dari berbagai aspeknya. Hiruk pikuk diskursus keagamaan bukan saja membicarakan nilai dan penganut agama, pada tingkat yang ekstrim juga sampai pada upaya mempertanyakan makna dari eksistensi agama dan penganutnya dalam memberikan kontribusi bagi kebaikan dan kejahatan di dunia. Pembicaraan tentang agama berlangsung mulai dari perpespektif transenden sampai dengan menempatkannya sebagai bagian dari spektrum gagasan-gagasan. Termasuk mereka yang berdialog dengan Tuhan secara sopan sebagai hamba abdi yang memperdalam iman, sampai dengan yang berdialog seperti terhadap yang sederajat dengan sekian polemik untuk menaklukkanNya.

Keseluruhan pembicaraan dan dialog kerap bermuara pada titik-titik ekstrim  take it or leave it! ; beriman tanpa reserve atau menanggalkan keimanan (setengah-setengah atau keseluruhan); beriman dengan kacamata kuda atau menggulingkan Tuhan dan mengambil alih peranNya untuk menciptakan keadilan, keteraturan dan kesatuan dunia. Pada mulanya ada transendensi vertikal, kerinduan manusia akan kerajaan Surga. Namun setelah Tuhan “mati” terjadilah penobatan manusia menjadi “Tuhan”. Manusia dalam waktu mengambil alih kedudukan yang dulu dijabat “kedudukan” di luar waktu.[2] Frustasi dengan kelemahan dan ketiadaan peran kongkrit agama melahirkan manusia fanatik yang defensif terhadap kritik agama atau memberontak dan “mensucikan diri” dari dogma ilahiah.[3]

Menghindari kegelisahan yang berakhir pada dua titik ekstrim kiri dan kanan di atas, tulisan sangat ringkas ini bermaksud mengurai visi kemanusiaan agama dari yang “diyakini ada” (berdasakan nilai-nilai kemanusiaan yang diyakini universal) dan menyingkirkan yang “mengada-ada” (pandangan primordial penganut agama). Dengan pengungkapan apa adanya, membuka peluang bagi para penganut agama untuk (meminjam istlah Ulil Abshar Abdalah) “..menenpatkan agama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia”,[4] serta mendorong para pengkritik agama untuk lebih arif memahami agama tidak semata-mata sebagai (dalam ilustrasi Karl Marx) “…keluh kesah makhluk yang tertindas, jantungnya dunia yang tidak punya hati, karena itu ia merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Ia adalah candu rakyat”.[5]

Senjakala Keberagamaan Manusia

God is not quite dead. Man is not quite alive [6]

Titik awal sengketa iman bermula pada senjakala keberagamaan, dimana watak penuh pertentangan gejala keagamaan terbaca; yang pada saat tertentu agama menjadi pengabsah kemapanan (kelas sosial, politik, ekonomi) dan pada saat lain menjadi kekuatan penentang kemapanan tersebut (rezim tiran, angkara murka, kesesatan). Pada titik ini pertanyaan-pertanyaan fenomenologis dimunculkan; siapa sesungguhnya entitas manusia? Iakah yang melawan karena dirinya sendiri atau faktor diluar dirinya? Bagaimana pertautan agama dengan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena seringnya manusia beragama berada dalam keterbelahan yang mencolok: tegas sekaligus kompromistis, –seolah-olah– saleh sekaligus –padahal– durjana, eksklusif –namun berpura-pura– sekaligus inklusif. Ia bisa mengatasnamakan kepentingan agama pada dua kepentingan dalam keterbelahannya. Bagi orang-orang beriman, kenyataan ini diterima dengan dua cara pandang; kepentingan hegemoni agama, atau takdir sinkretik agama. Sementara bagi yang memandang secara sosiologis, fenomena ini tak lebih dari watak dinamis penganut agama yang membutuhkan agama seperti baju penutup aurat dengan model yang bebas (dari yang paling ketat sampai yang menutupi ala kadarnya).

Fenomena-fenomena yang ditampikan manusia beragama menyikapi “dunia dan seisinya” yang seringkali keras dan cenderung berkonflik melalui mobilisasi keyakinan teologis menunjukkan bahwa kekuatan naratif dogma[7] dapat meresap ke dalam kekuasaan, imajinasi dan kesadaran penganut agama. Pergeseran dari ajaran Tuhan yang terbuka (inklusif) menjadi ajaran yang tertutup (eksklusif) di tangan “pemimpin” agama terjadi begitu halus dan tidak disadari. Perlahan-lahan agama menjadi kendaraan untuk kepentingan di luar kehendak agama itu sendiri. “Pemimpin” agama telah memunculkan faham keagamaan tertentu sebagai wacana yang meminggirkan wacana-wacana lain (de-centering), sehingga faham tersebut tidak sekadar merupakan faham keagamaan, namun juga merupakan kekuasaan, sehingga mudah dipahami jika konflik dan kekerasan merupakan pilihan cara yang seringkali digunakan.[8]

Secara kasat mata, pola beragama menjadi aktifitas absurd pada akhirnya. Bicara moral, beribadah, beriman, memberikan kolekte, adalah aktifitas rutin harian tanpa “rasa”, yang berakhir ketika kematian manusia. Seperti Sisifus, manusia cerdas, Raja Korintus yang sangat mencintai rakyatnya, harus terengah-engah mendorong batu besar di lereng curam Lembah Hades yang gelap, namun menjelang tiba di puncak batu tersebut mengelinding ke kedalaman lembah lagi, sehingga ia harus mengulang kembali mendorongnya.[9] Tidak ada yang lebih mengerikan dari pekerjaan tidak berguna dan tanpa harapan ini. Kaum beriman sibuk berkutat pada ritual dan kelompok, tidak melakukan perjumpaan dengan dunia apa adanya. Kaum beriman tidak memandang dirinya sebagai “keluarga besar umat manusia” dengan tanggungjawab bersama, namun larut dalam aktifitas “mengerikan” untuk dirinya dan Tuhan yang dimilikinya sendiri. [10]

Ada Apa Dalam Agama?

Manusia mencela Zaman

Padahal cela ada pada diri manusia

Kita mengecam zaman

Padahal kita lebih patut dikecam

Sekiranya zaman dapat berkata

Ia akan menggugat!

‘Alî ibn Abi Thâlib[11]

Shantih, shantih, shantih… (damai, damai, damai) demikian pesan menyejukkan dalam agama Hindu. Agama ini membolehkan manusia untuk meraih kesenangan karena hakikat dan kodrat alamiah manusia yang cinta akan kesenangan, sepanjang memenuhi kaidah-kaidah dasar moral. Namun ada waktu dimana manusia sadar bahwa kesenangan bukanlah segala-galanya, bukan karena kesenangan itu buruk, namun karena hal tersebut telah membuat manusia tertekan untuk memenuhinya dan terlalu pribadi. Sementara yang pribadi adalah obyek yang terlalu kecil dibandingan Keabadian. Kekayaan, kemasyhuran dan kekuasan adalah hal yang bersifat ekslusif, karena itu kompetitif dan berbahaya. Manusia tidak pernah memperoleh kecukupan dengan watak dasarnya yang rakus. Dalam filosofi Hindu, “Mencoba melenyapkan hasrat mencari kekayaan dengan mencari uang sama dengan memadamkan api dengan menuangkan minyak kedalamnya.

Singkatnya, dalam pandangan agama Hindu, Jalan Keinginan adalah permainan belaka. Ada yang salah dengan permainan. Alangkah menyedihkan jika “anak-anak” tidak memiliki permaian, namun lebih neyedihkan lagi jika “orang dewasa” tidak dapat mengalihkan diri kepada hal-hal yang lebih penting dari pada mainan tersebut. Manusia kemudian memilih Jalan Penolakan. Agama Hindu kemudian mengajarkan tujuan hidup manusia untuk menjalankan tugas kemanusiaan sesuai dengan usia, watak, serta status sosial. Dalam hal ini manusia harus mencurahkan kesetiaan kepada masyarakat, menempatkan kepentingan mereka di atas kepentingan sendiri.[12]

Ketika seluruh dunia tertidur lelap sambil terbuai mimpi, “seseorang” telah bangun. Dialah Sang “Budha”, Pangeran Sidharta Gautama. Akar kata sansekerta budh berarti mengetahui atau bangun, sehingga Budha berarti “Ia Yang Bangun”, dari keadaan lingkungan yang serba mewah, karena keresahan jiwa. Ia keluar dari kehidupan istana yang dijalaninya, menyaksikan kenyataan-kenyataan yang tak pernah diungkapkan kepadanya, seperti ketuaan, kecacatan dan penyakit, serta kematian. Sejak itu ia memutuskan diri untuk mengundurkan diri dari dunia, mencari penerangan rohani. Budha melihat dengan mata hatinya, “Jiwa-jiwa yang matanya hampir tidak berkedip oleh debu dan jiwa-jiwa yang matanya telah berkedip oleh debu.” Seluruh dunia manusia yang sedang tergilas, bingung dan sangat membutuhkan bantuan dan bimbingan.[13]

Beliau adalah matahari dan bulan yang tak mungkin diungguli, kemustahilan menyamai Guru kita sama mustahilnya dengan memanjat tangga untuk naik ke langit”, adalah ungkapan para pengikut Konfusius, Khong Hu Cu atau Khong Sang Guru. Kekaguman pada Nabi yang demokrat yang kaya akan pengalaman dan pertuah filsafat ini bukan tanpa alasan. Masa beliau menjabat sebagai pejabat pemerintah, ia membangun sistem dimana watak korup tak mempunyai ruang apresiasi secuil pun. Guru Khong mengundurkan diri dari Jabatan Perdana Menteri dan menjalankan “tugas perutusan ilahi” pun karena menolak persekongkolan korup. Guru menghabiskan masa tua dengan menyunting dan mengajarkan kitab-kitab klasik sampai dengan tutup usia pada umur 73 tahun. Beberapa pesan moral yang tertanam dalam dalam benak pengikutnya antara lain,

Jangan lakukan terhadap orang lain apa yang kamu tidak ingin dilakukan terhadapmu. Aku tidak sedih karena orang tidak mengenalku, aku sedih jika aku tidak mengenal mereka. Jangan menginginkan hasil segera, janganlah juga mencari keuntungan-keuntungan kecil. Jika engkau mencari hasil segera, engkau tidak akan pernah memperoleh tujuan akhir. Jika engkau disesatkan keuntungan-keuntungan kecil, tidak pernah engkau melakukan hal-hal besar. Orang yang berhati mulia mengamalkan apa yang dikhotbahkannya, baru kemudian mengkhotbahkan apa yang diamalkannya. Bila engkau melihat dalam hatimu tidak ada yang salah, apa yang digelisahkan, apa yang ditakutkan? Terlalu jauh sama buruknya dengan terlalu dekat. Orang yang tidak mempunyai kebajikan, tidak akan lama dalam kesukaran, juga tidak akan lama dalam kebahagiaan. Jika engkau bertemu dengan orang yang terhormat, berpikirlah untuk menirunya, jika engkau bertemu dengan orang yang berwatak buruk, periksalah dirimu sendiri. (ucapan-ucapan ini mungkin biasa, namun bisakah kita merasakan kekuatannya?)[14]

Pada mulanya adalah Tuhan.. merupakan kalimat pembukaan pertama Torah yang disucikan orang-orang Yahudi. Apapun pandangan hidup manusia, pandangan tersebut harus memperhitungkan “Sesuatu Yang Lain”. Alasan untuk pandangan ini adalah: Pertama, tidak seorang pun yang sungguh-sungguh akan berpendapat dia menciptakan dirinya sendiri; dan karena tidak, maka orang lain (yang bersifat manusiawi seperti dia) juga tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Kedua, setiap orang pada suatu saat akan merasakan bahwa kekuatannya terbatas, seperti ketika terjadi gempa bumi atau harus mengangkat batu yang begitu besar. Itu merupakan bagian dari “Sesuatu Yang Lain” dimana ia “berasal” dan merupakan “Sesuatu Yang Lain” yang “berhadapan” dengannya. Pandangan kepada kekuatan-kekuatan ilahi (antropomorfisme) Yahudi memunculkan cara pandang terhadap Tuhan yang melindungi para janda dan yatim piatu di gunung Sinai, Yahweh yang membebaskan orang-orang Yahudi dari perbudakan,. Tuhan adalah Tuhan kebenaran, yang kemurahan hati dan cinta kasihNya berlanjut sepanjang abad dan kasihNya yang lembut meresapi seluruh karyaNya.[15]

Sementara dari kesederhanaan orang-orang Negro di Georgia sampai dengan kedalaman intelektual Thomas Aquinas, bergema senandung, “Tuhan aku ingin menjadi seorang pengikut Kristus”. Kehendak ini dianut secara meluas dalam dua arus keyakinan Katholik dan Kristen. Agama yang berlandaskan pada sejarah kehidupan Yesus Kristus (Isa al-Masih) yang ramah, rendah hati, dan lembut, yang dikelilingi anak-anak dan domba-domba, telah mengambil hati sebagian besar umat manusia abad ini. Kitab Injil (Bible) selalu memuji-muji perjalanan hidup Kristus yang oleh Petrus dinyatakan dalam lima kata, “Beliau berkeliling sambil berbuat baik”. Tanpa merasa rikuh Kristus bergaul dengan orang-orang menderita dalam masyarakat, dengan perempuan tuna susila dan pemungut pajak. Kristus menyembuhkan yang sakit, membantu yang putus asa, menasehati yang krisis. “Cintailah sesamamu seperti mencintai diri sendiri”, “Lakukan terhadap orang lain apa yang anda ingin lakukan terhadap diri anda sendiri”, “Carilah kebenaran, maka kebenaran akan memerdekakanmu”, adalah beberapa pesan yang paling sering diulang pengikutnya sampai dengan hari ini.[16]

Islam lahir melalui perjuangan gigih Nabi kharismatik Muhammad Saw, yang membawa pesan, “Tuhan takkan pernah mencintai mereka yang tak mencintai manusia”. Yang menanamkan kehati-hatian orang beriman dari buruk sangka, mengadu domba dan memutus silaturrahim. Yang mengajarkan cinta pada keluarga dan pada sesama, seperti kita mencitai diri sendiri. Yang mengingatkan bahwa tanggungjawab sosial yang tak terlaksanakan lebih berat tanggungannya daripada tanggungjawab ilahiah. Yang mengajarkan kemuliaan bagi yang menjunjung kebenaran dan keadilan di atas segala-galanya. “Sungguh jihad yang tiada taranya adalah menyatakan kebenaran kepada penguasa yang zalim”, demikian pesan moral Sang Nabi yang memberikan enerji perlawanan kaum muslim terhadap para tiran di muka bumi.[17]

Dari Kota Makkah dan Madinah al-Qur’an yang diturunkan Tuhan kepada Sang Nabi sepanjang 20-an tahun kehidupan beliau menjadi corpus kaum muslim sedunia, yang dikuatkan dengan pesan-pesan profetik al-Hadits atau Sunah Nabi. Dalam al-Qur’an, kepada kaum muslim Tuhan menyatakan, “Wahai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu. Tetapi janganlah melampaui batas. Sesusngguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”[18] Islam tidak menganggap keterlemparan manusia ke dunia sebagai kutukan, namun menekankan membangun “sorga” di dunia itu sendiri untuk mendapatkan sorga yang sesungguhnya di akhirat dengan menciptakan keadilan. “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kelompok mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu dekat dengan ketakwaan. Dan bertakwalah (takutlah) kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[19]

Bagaimana Wajah Agama yang Kita kehendaki Kedepan?

Saya meyakini bahwa Tuhan sungguh menderita ketika Dia berpartisipasi dalam deru kehidupan sekelompok wujud. Keterlibatannya dalam penderitaan Dunia adalah contoh luhur tentang mengetahui, menerima, dan mengubah penderitaan yang muncul di dunia dengan cinta. Saya meyakini kepekaan Tuhan. Tanpa itu, saya tidak bisa merasakan wujud Tuhan

(Alfred North Whitehead, “Suffering and Being” dalam Adventure of Ideas)[20]

Dari apa yang kita lihat di atas, agama-agama sangat kaya dengan visi kemanusiaan. Jika dikaitkan dengan sejarah agama-agama yang menjadi antitesis konteks, tampaknya memang perlu untuk mendorong para penganut agama berhenti menghabiskan waktu untuk mencari kenyamanan dirinya karena beragama, namun juga menfasilitasi implementasi komprehensif seluruh visi aktual agama, yang mendukung persamaan, keadilan dan kemanusiaan. Gagasan tentang pembelaan terhadap Tuhan atau berperang atas nama Tuhan sungguh telah menjadi gagasan yang sepenuhnya naif pada pada akhirnya, uthopis, sehingga tidak relevan dikembangkan lagi..

Iman yang tertuju pada agama, terkonsentrasi pada doktrin dan mazhab, tidak seharusnya menjadi sikap mati yang menjebloskan agama sebagai yang sakral atau Tuhan itu sendiri, tanpa mengambil peran aktif. Agama seharusnya menjadi “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang menjadi lembaga yang mati beku, dan diperalat membatasi kekebasan penganutnya. Misi agama adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka bumi secara kongkrit. Nilai-nilai tersebut tidak sekadar dikhotbahkan, namun diwujudkan dengan membentuk sistem dan aturan main yang diwujudkan dalam perbuatan. Wassalam

Jakarta, 29 Mei 2004


* Mouvty Makaarim al-Akhlaq, Kepala Bidang Operasional Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Koordinator Presidium Forum Dialog Generasi Muda Antar Iman (Gemari) dan anggota Center for Religious Discourse (CerdiC)

[1] Karen Arsmtrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan Yang Dilakukan Oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam Selama 4000 Tahun (Bandung: Penerbit Mizan, 2001)

[2] Martinus Suhartono, Albert Camus; Dari Yang Absurd ke Pemberontakan, dalam Tim Redaksi Majalah Driyarkara, Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Umum, 1993), h. 173-174

[3] Ada enam segi agama yang selalu muncul secara teratur, yang memberi kesan bahwa kebutuhan akan segi-segi itu berakan dalam kehidupan manusia: 1). Otoritas Tertinggi (Tuhan, Nabi, Agamawan); 2). Upacara Keagamaan (Ritual); 3). Renungan Spekulatif (Pencarian manusia dalam menafsirkan agamanya); 4). Tradisi; 5). Konsep Kekuasaan dan Kasih Tuhan; 6). Kaitan Agama dengan Misteri (magis, mistisisme, mukjizat, hal-hal Esoterik yang menakutkan; seperti spiritualisme dan adikodrati. Lihat Huston Smith, Agama-agama Manusia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), h. 119-122

[4] Kompas, 18 November 2002

[5] Karl Marx, Toward the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, www.marxist.org

[6] Vitezslav Gardavsky, God is Not Yet Dead (Victoria, Australia: Penguin Books Australia, 1973), h. 17

[7] Dogma (Yunani) adalah sebuah doktrin (kepercayaan, ideologi, ajaran, pendapat) yang diproklamirkan secara formal oleh seorang “pemimpin” atau “lembaga” dan pada akhirnya baku dan mengikat. Klaim bahwa dogma hanya dapat dikeluarkan oleh otoritas keagamaan membuat tidak banyak orang yang lebih lanjut memikirkan kebenaran atau ketepatannya. Umumnya, penganut agama tidak pernah merasa perlu menguji kembali dogma-dogma tersebut, meskipun memberikan konsekuensi-konsekuensi yang tidak bisa diterima akal sehat.

[8] Pengertian ini penting untuk menjelaskan bahwa doktrin dapat saja memainkan peran dalam konflik teologis, namun bukan tunggal. Pertama, karena doktrin sendiri merupakan fiksi konseptual. Otoritas relijius yang bermaksud mengedepankan kepentingan “membela keimanan” yang kemudian mengelola doktrin ilahiah menjadi dogma dengan menegaskan bahwa kredo ilahiah dan tradisi yang dibangun otoritas relijius dari masa ke masa adalah sesuatu yang abadi dan tidak dapat diganggu gugat. Dalam kerangka mempertahankan atau memaksakan “keyakinan” akan keabadian kredo tersebut muncullah konflik.

[9] Hukuman ini berjalan sejak hari kematiannya dan takkan berakhir. Nasib buruk ini ditanggungnya karena “kelicikannya” mengecoh para Dewa (Zeus, Sang Penguasa, Pluto, Penguasa lembah kematian Hades, Kharon Si Pencabut Nyawa). Lihat Menelaos dan Yannis Stephanides, Mitologi Yunani: Buku ke 14 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992) h. 27-29

[10] Dalam pandangan Albert Camus, harus ada jeda pada saat manusia menjalankan kesehariannya untuk menyadari ada yang tragis dalam kehidupannya. Ketika Sisiphus memandang batu yang bergulir ke bawah, ketika ia turun kembali ke dataran, pada saat itu jeda yang memberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri, diluar hukuman terus menerus yang diterimanya. Kaum Buruh yang sehari-hari bekerja namun tak berubah nasibnya, harus mengambil jeda untuk menyadari ketragisan yang dialaminya dan melakukan pemberontakan dengan berserikat misalnya. Lihat Albert Camus, Mite Sisifus, Pergulatan dengan Absurditas (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), h. 155-156

[11] Amîr al-Mukminin ‘Alî ibn Abi Thâlib Alaihissalam, Nahj al-Balâghah (Beirut: Dâr al-Fikr, tt)

[12] Huston Smith, Ibid, h. 19-27

[13] Ibid, h. 106-118

[14] Ibid, h. 188-194

[15] Ibid, h. 298-304

[16] Ibid, h. 355-366

[17] Mohammad Hashim Kamali, The Dignity of Man: An Islamic Perpective (Selangor, Malaysia: Ilmiah Publishers, 2002) h. 5-20

[18] QS 5: 7

[19] QS 5: 8

[20] Karen Arsmtrong, Ibid, h. 492