Ketika Kalimat “Jadilah” menghancurkan Logika Rasional Dan Empirikal (Pandangan Filsafat Pengetahuan Terhadap Peristiwa Isra’ Dan Mi’raj)[1]

Oleh: Mouvty Makaarim al-Akhlaq

“Katakanlah wahai Muhammad (kepada mereka yang tidak beriman kepada peristiwa Isra’ dan Mi’raj): “Kalian percaya atau pun tidak sama saja bagi Allah”. Sesungguhnya orang-orang yang terpelajar dan diberi pengetahuan sebelumnya apabila disampaikan kepada mereka (berita Isra’ dan Mi’raj) maka mereka merendahkan muka lagi bersujud”. (QS 17:107)

Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa paling monumental dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw., dimana beliau diperjalankan oleh Allah pada malam hari dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsa di Palestina lalu kemudian menuju Sidhrath al-Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu dan kembali ke bumi malam itu juga. Peranan “Sang Terpuji Yang Suci” (yaitu gelar yang Allah berikan pada dirinya sendiri dalam ayat Isra’ dan Mi’raj dengan lafald “Subhaana”) memperjalankan Nabi Muhammad dalam waktu yang sangat singkat di satu sisi menguatkan keimanan sebagian kaum muslimin, tetapi di sisi lain juga mengakibatkan orang-orang yang memang sejak awal mengingkari dakwah rasullullah semakin mengingkarinya.

“Maha suci Allah yang memperjalankan hambanya pada malam hari dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsa yang telah Kami (Allah) berkahi sekelilingnya untuk menunjukkan kepadanya (Muhammad) sebagian dari kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat”. (QS 17:01)

Secara ringkas peristiwa Isra’ dan Mi’raj menurut Ibn al-Qoyyim adalah sebagai berikut: Pada suatu malam rasul diperjalankan oleh Allah dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsa dengan mengendarai Buraq, ditemani oleh Jibril alaihissalam. Disana rasul melaksanakan shalat berjama’ah bersama nabi-nabi terdahulu dan menjadi imam. Setelah itu beliau berangkat menuju langit dunia.[2]

Pada langit pertama rasulullah bertemu dengan nabi Adam, bapak seluruh umat manusia. Pada langit kedua Rasulullah bertemu  Nabi Yahya bin Zakaria dan Nabi Isa bin Maryam. Pada langit ketiga Rasulullah bertemu Nabi Yusuf. Pada langit keempat Rasulullah bertemu Nabi Idris. Pada langit kelima Rasulullah bertemu Nabi Harun. Pada langit keenam Rasulullah bertemu Nabi Musa.[3] Pada langit ketujuh Rasulullah bertemu Nabi Ibrahim. Kemudian Nabi menuju Sidhrah al-Muntaha dan menerima perintah shalat lima puluh waktu. Atas anjuran Nabi Musa untuk meminta dispensasi kepada Allah, perintah shalat yang diterima rasulullah menjadi hanya lima waktu saja.[4]

POLEMIK SEPUTAR PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ

Ada tiga hal yang menjadi perdebatan ulama seputar peristiwa Isra’ dan Mi’raj, yaitu:

  1. Tempat pemberangkatan rasulullah pada malam Isra’ dan Mi’raj.
  2. Kapan peristiwa tersebut terjadi?
  3. Apakah Isra’ dan Mi’raj merupakan perjalanan jasmaniah dan ruhaniah rasulullah?

1. Tempat pemberangkatan rasulullah pada saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Ada dua pendapat tentang tempat pemberangkatan rasulullah pada saat Isra’ dan Mi’raj, pertama, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa rasulullah pada saat Isra’ dan Mi’raj berangkat dari rumah Ummu Hani’ binti Abi Thalib.[5] Pendapat kedua, bahwa rasulullah berangkat dari Masjid al-Haram, yaitu kawasan seputar Ka’bah. Pendapat ini mendapat dukungan lebih kuat di kalangan ulama.[6] Ada juga yang berpendapat bahwa rasulullah keluar pada malam tersebut dari rumah Ummu Hani’ menuju Masjid al-Haram dan memulai perjalanan Isra’ dan Mi’raj dari Masjid.[7]

2. Kapan Peristiwa tersebut terjadi?

Ada beberapa pendapat seputar waktu terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj, diantaranya: Pertama, Isra’ dan Mi’raj  terjadi bersamaan tahunnya dengan pengangkatan rasul sebagai Nabi. Pendapat ini didukung oleh al-Thabari. Kedua, Isra’ dan Mi’raj terjadi lima tahun setelah pengangkatan beliau menjadi Nabi. Pendapat ini dibenarkan oleh al-Qurtubi dan al-Nawawi. Ketiga, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun kesepuluh kenabian menurut al-’Allamah al-Manshur Fauzi.[8] Keempat, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada malam 17 Rabi’ al-Awwal, satu tahun sebelum beliau hijrah ke Madinah.[9]

3. Apakah Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan jasmaniah dan ruhaniah rasulullah?

Sebagian besar ulama berkeyakinan bahwa Isra’ dan Mi’raj adalah perjalanan jasmaniah dan ruhaniah rasulullah sekaligus. Pendapat Ini didukung oleh banyak hadits yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat besar seperti Anas bin Malik, Abu Dzar al-Ghifari, Ummu Hani’ dan lain-lain. Ada beberapa alasan yang mendukung pendapat ini, diantaranya:

Pertama, Ketakjuban peristiwa Isra’ dan Mi’raj menjadi ada karena ia adalah pengalaman jasmani dan ruhani rasulullah sekaligus. Kedua, Seandainya Isra’ dan Mi’raj adalah mimpi rasulullah niscaya kaum Quraisy tidak akan menjadi gempar dan berusaha dengan gigih mengingkari kebenaran peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Ketiga, pernyataan Allah dalam al-Qur’an dengan kata-kata “bi’abdihi” menunjukkan sosok yang terdiri dari jasad dan ruh. Keempat, Ibnu Abbas berpendapat bahwa firman Allah: “Dan tidaklah Kami menjadikan penglihatan yang kami perlihatkan kepada Kamu sekalian kecuali fitnah bagi manusia” dimaksudkan untuk penglihatan yang disaksikan oleh rasulullah pada saat Isra’ dan Mi’raj. Kelima, perjalanan rasulullah yang sangat singkat adalah suatu hal yang mungkin, sebab al-Qur’an juga menjelaskan bagaimana angin bisa membawa Nabi Sulaiman ke tempat yang berjauhan dalam waktu yang singkat.[10] Keenam, mengingkari peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah dosa besar, sebab mengingkari kekuasaan Allah memperjalankan hambanya dalam waktu yang singkat. Jika Isra’ dan Mi’raj bukan perjalanan jasmani, bukan penampakkan ilmu dan iradah Allah, niscaya pengingkarannya tidak akan bermasalah besar.[11]

Ada juga yang berpendapat bahwa Allah hanya memperjalankan jiwa rasulullah saja dengan dasar: pertama, Mu’awiyah bin Abi Sufyan jika ditanya tentang Isra’ dan Mi’rajnya rasulullah selalu mengatakan itu adalah mimpi dari Allah, dan mimpi dari Allah adalah benar adanya.[12] Kedua, sebagian keluarga Abu Bakar menyatakan bahwa Aisyah tidak melihat rasulullah pergi atau menghilang pada malam itu. Ia diperjalankan ruhnya saja.[13] Ketiga, al-Hasan berpendapat bahwa maksud dari firman Allah: “Dan tidaklah Kami menjadikan penglihatan yang kami perlihatkan kepada Kamu sekalian kecuali fitnah bagi manusia” adalah penglihatan pada saat tidur (kalimat al-ru’ya ditafsirkan mimpi, dan mimpi pasti hanya dialami oleh orang yang tidur)[14].

Yang menarik adalah pendapat dari Syaikh Thanthawi Jauhari. menurutnya pendapat tentang Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah dengan jasmani dan ruhani atau ruhnya saja ditinjau dari teori ilmu tentang ruh bisa dibenarkan. Bukankah rasulullah berinteraksi dengan beberapa nabi-nabi yang jelas-jelas sudah di alam barzakh, mereka adalah ruh. Tidak masalah apakah nabi menjumpai mereka dengan kondisi jasmani dan ruhani sekaligus (al-Jism al-Maady) atau dalam kondisi sama seperti nabi-nabi tersebut (al-Jism al-Atsary al-Lathif), keduanya mungkin.[15]

STUDI EPISTEMOLOGIS TERHADAP PERISTIWA ISRA’ DAN MI’RAJ

Sebagaimana diketahui bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj menjadi tanda tanya besar bagi akal manusia pada masa itu. Sebagai sebuah peristiwa supranatural Isra’dan Mi’raj menjadi isu sentral dikalangan terpelajar Quraisy, dan mungkin akan terus menjadi objek perdebatan pengetahuan yang aktual. Ada baiknya kita mencoba menguji teori-teori pengetahuan yang ada untuk melakukan tashdiq (assent; pembenaran) terhadap peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

1. Teori Rasional__

Teori rasional mempercayai adanya dua sumber konsepsi: pertama, penginderaan (sensasi). Kita mengkonsepsi panas, cahaya, rasa dan suara karena penginderaan kita terhadap semuanya. Kedua, adalah fitrah, dalam arti bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan konsepsi-konsepsi yang tidak muncul dari indera, tetapi sudah ada dalam lubuk fitrah. Indera adalah sumber pemahaman terhadap konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan sederhana, sementara fitrah adalah yang mendorong munculnya sekumpulan konsepsi dalam akal. Konsepsi Fitri itu adalah “ide Tuhan”[16] menurut Descartes.[17] Agaknya keputusannya tentang ide fitri ini karena ia menemukan hanya matematikalah (ilmu pasti) yang merupakan kepastian, untuk satu hal yang irasional atau di luar jangkauan ilmu pasti ia hanya mengatakan: “Bagaimana saya tahu dan meyakini tentang semua benda yang saya nyatakan saya ketahui?” doktrin rasionalitas guncang karena ia tidak bisa menembus alam metafisik.[18]

Adapun bagi Kant[19], semua bidang pengetahuan manusia adalah fitri, tetapi ia mengingkari adanya ide fitri –yaitu ide yang diketahui sebelum pengalaman indrawi apapun. Ia menyatakan bahwa fakultas-fakultas sensibilitas dan pemahaman kita memiliki struktur-struktur formal yang mempola pengalaman kita. Ini berarti bahwa kausalitas-kausalitas tertentu yang kita persepsi pada objek-objek diberikan kepada objek-objek itu dari struktur alami sensibilitas dan pemahaman kita.[20]

Dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, kedua teori di atas menjadi mentah. Sebab, pertama, peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah sensasi Nabi seorang diri dan tidak bisa dicarikan pembuktiannya secara umum. Penginderaan Nabi berfungsi sebagaimana mestinya. Kedua, tidak ada ide fitrah atau penghayatan fitriah pra-konsepsi Isra’ dan Mi’raj. Ia menjadi pengalaman indrawi Nabi yang pure sensasional.

Jika kita mengikuti hukum rasio, maka harus ada pengalaman intuitif yang diakui secara umum kebenarannya. Ia adalah informasi primer, sementara pikiran manusia adalah informasi skunder. Jika kita melakukan penjajakan teoritis (melalui proses berfikir) tentang Isra’ dan Mi’raj, maka kita akan menemukan dua hal: pertama, pelaku peristiwa, kedua, peristiwa itu sendiri. Karena Isra’ dan Mi’raj bukan salah satu proporsi primer rasional, maka yang terjadi adalah aporia (kebingungan), maka, kita harus kembali kepada sumber-sumber pengetahuan yang ada yaitu nabi sendiri sebagai data primer (sedangkan rasio kita mau tak mau hanya berfungsi sebagai data sekunder). Allah menjadi fungsionaris tunggal dalam rekayasa yang bernama Isra’ dan Mi’raj ini.[21]

Kant juga menolak konsep a priori (pengalaman yang mendahului sebuah kausa dan independen)[22] dan menciptakan teori a posteriori (kausa (sesuatu) datang sesudah pengalaman).[23] Padahal keduanya sama-sama lemah. Semua proporsi menuntut pengetahuan pendahuluan yang primer, yang jika ia disingkirkan maka tidak akan pernah ada pengetahuan teoritis. Menyingkirkan peran Allah dalam peristiwa isra’ dan Mi’raj berarti menutup kemungkinan untuk mengetahui Isra’ dan Mi’raj sendiri. Isra’ dan Mi’raj bukan peristiwa a priori nabi karena ia tidak punya konsepsi fitri tentang itu.

Ayatullah Baqir al-Shadr[24] menyatakan bahwa tidak ada gagasan apapun dalam diri manusia pada saat lahir di muka bumi. Allah berfirman: “Dan Allah yang mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian.  Kalian tidak mengetahui sesuatu pun. Dan ia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS 16:78).

Isra’ dan Mi’raj juga bukan peristiwa a posteriori, tidak mengakibatkan apapun. Pesan religius yang ada pada Isra’ dan Mi’raj bukan pengangkatan status nabi dari seorang hamba. tetapi adalah pengukuhan kehambaan melalui dialog transendental setelah ketakwaan dan kesadaran nabi membuahkan keterikatan yang imanen sebelumnya.

2. Teori Empirikal

Teori empirikal mendasarkan diri pada eksperimentasi dan observasi sehingga sangat mengagungkan penginderaan karena ialah yang membekali akal manusia dengan konsepsi-konsepsi dan gagasan-gagasan. Eksperimen-eksperimen ilmiah telah menunjukkan bahwa indera adalah sumber pokok konsepsi, dengan tidak menafikan kemampuan akal budi menghasilkan pengertian-pengertian baru.[25] Kegagalan teori empirikal, bahwa ia tidak menjelaskan apa-apa dengan indera selain gejala yang beriringan dalam hukum kausalitas. Ilmu-ilmu eksperimental yang menjelaskan kausalitas menyatakan bahwa air akan semakin panas ketika diletakkan di atas api, dan kemudian mendidih, tetapi tidak menjelaskan keharusan mendidih pada suhu tertentu. Kalau eksperimen empirikal tidak mampu mengungkapkan konsep kausalitas, bagaimana pula konsep itu muncul dalam akal manusia.

David Hume[26] lebih akurat dalam menerapkan teori empirikal. Ia mendefinisikan bahwa kausalitas tak mungkin diketahui oleh indera. Semua adalah kebiasaan “pengasosiasian ide-ide”. Ia berkata: “Aku melihat bola bilyar bergerak dan menabrak bola lain yang lantas bergerak. Tetapi dalam gerak bola yang pertama, tak ada yang menunjukkan kepadaku keharusan gerak bola yang kedua. Indera batin menunjukkan kepadaku bahwa gerak anggota tubuh mengikuti perintah kehendak. Tetapi itu tidak memberikanku pengetahuan langsung mengenai hubungan yang mesti antara gerak dan perintah.[27] Ia juga menjelaskan bahwa tidak ada keharusan yang mengikuti sebuah kausa dengan efeknya. Kausa dan efek dihubungkan dalam sebuah urutan temporal, keteraturan urutan, kesinambungan dan keterkaitan yang konstan. Semua itu hanya masalah asosiasi gagasan-gagasan kita, bukan masalah kekuatan produktif yang menghadirkan sebuah efek dari sebuah kausa, atau menyebabkan sebuah kausa menuntut efek tertentu.[28] Ia mencontohkan bahwa cahaya yang keluar sebelum dentuman meriam bukan penyebab suara atau terlontarnya peluru. Jauh sebelum Hume al-Ghazali telah menyatakan: “Ayam yang berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar”. “Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C dan dari C ke D tidak membuktikan bahwa pergerakan dari B ke C disebabkan oleh pergerakan dari A ke B”, kata Newton, penemu gaya gravitasi.

Jika demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam adalah “a summary of statistical everages” (ikhtisar statistik pukul rata). Sehingga apa yang dinamakan “kebetulan” buka tidak mungkin juga suatu kebiasaan atau hukum alam, kata Pierce, seorang ahli ilmu alam. Einstein menyatakan bahwa semua kejadian diwujudkan oleh “superior reasoning power” (kekuatan nalar alam yang superior, al-’Aziz al-’Alim). Inilah yang ditegaskan Allah dalam firmannya sebagai pengantar peristiwa Isra’ dan Mi’raj: “Kepada Allah saja tunduk apa yang di langit dan apa yang di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan perintahnya”_. (QS 16:49-50)[29]

Jika pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada  pemahaman secara ilmiah terhadap peristiwa Isra’ dan Mi’raj maka pemaksaan pembuktiannya menyebabkan ia menjadi tidak ilmiah lagi. Apalagi jika diingat bahwa asas filosofis ilmu pengetahuan adalah trial and error (yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja), sedangkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj hanya terjadi sekali, tidak dapat diuji, diamati dan dilakukan eksperimentasi.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard,[30] tokoh salah satu eksistensialisme menyatakan: “Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu”. Immanuel Kant juga berkata: “Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah dan menyediakan waktu bagiku untuk percaya”.[31]

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Jakarta, 23 Agustus 1998

Mufti M. Akhlaq

DAFTAR PUSTAKA_

  1. ‘Araby, Ibn, Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdullah, Ahkam al-Qur’an, Mathba’ah ‘Isa al-Baaby al-Halaby, tt.
  2. Al-Baghawy, Imam Abu Muhammad al-Husayn bin Mas’ud al-Farra’ al-Baghawy al-Syafie’i, Tafsir al-Baghawy al-Musamma Ma’alim al-Tanzil, Daar al-Ma’rifah, Beirut, Libanon, cet. II, 1407 H./ 1986.
  3. al-Buty, Dr. Sa’id Ramdhan, Fiqh al-Sirah, Daar al-Fikr, tt.
  4. Hijazy, Dr. Muhammad Mahmud, al-Tafsir al-Wadih, Mathba’ah Istiqlal al-Kubra, Kairo, cet. IV 1388 H./1968 M.
  5. Al-Jaza’iry, Abu Bakr Jabir, Aysar al-Tafasir li Kalam al-’Aly al-Kabir, Racem Advertising, Jeddah, cet II 1407 H./1987 M.
  6. ____, Hadza al-Habib Muhammad rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ya Muhibb, Daar al-Syuruq & Maktabah al-Sawadi li al-Tauzi’, Jeddah, cet. III 1409 H./1989 M.
  7. Jauhari, Syaikh Thanthawi, al-Jawahir fi tafsir al-Qur’an al-Karim, Daar al-Fikr, tt.
  8. Al-Maraghy, Shahib al-Fadlilah Ustadz Ahmad Musthafa, Tafsir al-Maraghy, Daar al-Fikr, tt.
  9. Al-Qurtubi,  Ibn Abdullah, _al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an_,  Daar al-Fikr tt.

10. Qutb, Sayyid, Fi dzilal al-Qur’an, Daar al-Syuruq, Kairo & Beirut, cet. X 1401 H./1981 M.

11. Tim penulis Rosda, Kamus Filsafat, Remaja Rosdakarya, Bandung, cet. I 1995 M.

12. Al-Shadr, Sayyid al-Islam Ayatullah al-’Udzma Muhammad Baqir, Falsafatuna: Dirasah maudlu’iyah fi al-mu’tarak al-Sira’ al-Fikr al-Qa’im baina al-Mukhtalaf al-Thayarat al-Falsafiyah wa al-Falsafah al-Islamuyyah al-Maddiyyah al-Diyaliktiyyah (al-Marksiyyah), Daar al-Kutub al-Islamiyyah, Qum, Iran, cet. X 1451 H./1981 M. Dicetak oleh penerbit Mizan dengan judul: Falsafatuna: Pandangan Muhammad Baqir al-Shadr Terhadap Pelbagai Aliran Filsafat Dunia, cet V Jumada al-Tsaniyah 1416/November 1996 M.

13. Shihab, Dr. H.M. Quraish, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Penerbit Mizan, cet. X, Muharram 1416 H./1995 M.

14. Siswanto, M. Hum, Drs, Joko, Dari Aristoteles sampai Derrida: Sistem-sistem Metafisika Barat, Pustaka Pelajar, cet. I Mei 1998 M.

15. Al-Suyuti, al-Imam Abdurrahman Jalal al-Din, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur, Daar al-Fikr, cet I 1403 H./1983 M.

16. Syakir, Mahmud, Tarikh al-Islamy 2, Maktabah al-Islamy, Beirut, Lebanon, cet. III 1405 H./1985 M.

17. Al-Mubarakfury, Fadlilah Syaikh Shafy al-Rahman, al-Rahiq al-Makhtum: Bahts fi al-Sirah al-Nabawiyah ‘ala Shahibiha ‘Afdhal al-Shalat wa al-Salam_, Daar al-Qiblat li al-Tsaqafah al-Islamiyyah, al-Mamlakah al-’Arabiyyah, al-Su’udiyyah & Muassasah ‘Ulum al-Qur’an, Syria, Damsyik, cet. IV 1408 H./1987 M.


[1] Makalah ini ditulis untuk materi pelajaran tafsir semester VII, pemilihan judul didasarkan bahwa tulisan tentang komentar filsafat pengetahuan terhadap peristiwa Isra’ dan Mi’raj  masih  dirasa sedikit.

[2] Untuk dialog menjelang Nabi Muhammad dan Jibril memasuki langit bisa dilihat di Tafsir Ibn Katsir (Tafsir al-Qur’an  al-’Adzim) 3: 6-8, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur  5: 182-204, Tafsir al-Baghawy 3: 93.

[3] Tatkala Rasulullah ingin berangkat menuju langit ketujuh, Nabi Musa menangis. Setelah ditanya oleh Rasulullah apa yang menyebabkannya menangis beliau menjawab: “Sesungguhnya  seorang “anak” (ghulam; yang dimaksud Nabi Muhammad) yang diutus setelahku ternyata pengikutnya lebih banyak yang masuk ke sorga daripada pengikutku”. Lihat Tafsir Ibn Katsir 3:14-15, Tafsir al-Baghawy 3:94.

[4] Lihat Tafsir Ibn Katsir 3:6-34, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir al-Ma’tsur 5:181-194, Tafsir alBaghawy 3:94-95. Kisah ini diringkas dari al-Rahiq al-Makhtum hal. 155-158.

[5] Lihat Tarikh al-Islamy karangan Mahmud Syakir hal.129, Lihat juga Fi Dzilal al-Qur’an 4:2210, Tafsir Ibn Katsir 3:36-40, polemik ini juga ada di Tafsir al-Maraghy 5:15:7. Pengertian Masjid al-Haram adalah seluruh kota Makkah. Lihat Fi Dzilal al-Qur’an 4:2210.

[6] Lihat Tafsir Ibn Katsir 3:6-36, al-Rahiq al-Makhtum hal. 156, Fi Dzilal al-Qur’an 4:2210, Tafsir al-Maraghy 5:15:7.

[7] Lihat Hadza al-Habib Muhammad Rasul Allah SAW ya Muhibb hal. 135-136.

[8] Seluruh pendapat di atas didasarkan pada meninggalnya khadijah radliallahu ‘anha pada bulan Ramadhan tahun kesepuluh kenabian. Pada waktu meninggalnya Allah belum mewajibkan shalat lima waktu, dan seluruh ulama sepakat bahwa Allah mewajibkan shalat pertama kali pada saat Isra’ dan mi’raj tersebut. Lihat al-Rahiq al-Makhtum hal. 155. Adapun beberapa pendapat yang dianggap lemah sengaja tidak kami cantumkan.

[9] Lihat Tafsir al-Maraghy 5:15:5

[10] Lihat Tafsir al-Maraghy 5:15:6.

[11] Lihat Ahkam al-Qur’an 3:1192-1193.

[12] Pendapat ini dianggap lemah, sebab pada waktu Isra’ dan Mi’raj terjadi Mu’awiyyah belum memeluk agama Islam, sehingga pendapatnya ditolak.

[13] Lihat Tafsir Ibn Katsir 3:36-37, Pendapat ini mendapat kritik dari beberapa ulama, sebab pada saat peristiwa itu Aisyah masih kecil dan belum menjadi isteri rasulullah, Lihat Tafsir al-Maraghy 5:15:7.

[14] Lihat Tafsir al-Maraghy 5:15:7.

[15] Lihat al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim 9:15-16.

[16] Lihat Falsafatuna: Pandangan Muhammad Baqir al-Shadr Terhadap Pelbagai Aliran Filsafat Dunia hal. 29.

[17] Rene Descartes (1596-1650) adalah filosof, matematikawan dan ilmuwan Prancis. Lahir di La Hume Tourine. Ia memulai filsafatnya dengan badai skeptisisme melalui dalilnya yang terkenal: cogito ergo sum (I think, therefore I am; Aku berfikir, maka Aku eksis) yang juga dikenal dengan imanensi Descartes. Lihat Kamus Filsafat hal.76, Dari Aristoteles Sampai Derrida: Sistem-sistem Metafisika Barat hal. 24-26.

[18] Lihat Dari Aristoteles sampai Derrida:… hal.27-28.

[19] Immanuel Kant (1724-1804) adalah filosof Jerman, lahir di Konigsberg. Pada usia 10 tahun ia masuk Collegium Fredicianum dengan niat mempelajari teologi –ia tumbuh menjadi orang  yang shaleh. Ketika ia masuk Universitas Konigsberg pada tahun 1740, ia mengembangkan minat pada matematika, geografi fisik, fisika, logika dan metafisika. Kemudian ia mengajar pada universitas tersebut. pada tahun 1770 ia diangkat menjadi profesor logika dan metafisika. Lihat Kamus Filsafat hal. 170.

[20] Lihat Falsafatuna; hal.29.

[21] Ini adalah metode Ayatullah Muhammad Baqir al-Shadr dalam membantah mutlaknya teori pengideraan. Lihat Falsafatuna hal.37-38.

[22] Lihat Kamus Filsafat hal. 21.

[23] Lihat Kamus Filsafat hal.19

[24] Nama lengkapnya adalah Muhammad Baqir al-Sayyid Haidar bin Isma’il al-Shadr. Lahir di Kazimin, Baghdad, Irak pada tahun 1350 H./1931. Ia dieksekusi oleh Rezim Partai Ba’ats pada  tanggal 5 April 1980 bersama saudara perempuannya Bint al-Huda, setelah mengeluarkan fatwa haram bagi kaum muslimin mengikuti Partai Ba’ats yang tidak Islami. Lihat Falsafatuna hal. 11-14.

[25] Lihat Falsafatuna hal. 31-34.

[26] David Hume (1711-1776) adalah filosof Scottish yang lahir di Edinburgh dan belajar di Edinburgh University. Ia adalah tokoh empirisisme yang konsisten, ditokohkan bersama Locke dan Barkeley. Lihat Kamus Filsafat hal. 140.141.

[27] Lihat Falsafatuna hal.34-35.

[28] Lihat Kamus Filsafat hal. 141.

[29] Lihat Membumikan al-Qur’an hal. 340-341.

[30] Soren Aaby Kierkegard (5 Mei 1813-11 November 1855) adalah filosof dan penulis religous Denmark yang lahir di Copenhagen dan menempuh pendidikan di Unversitas Copenhagen. Lihat Kamus Filsafat hal. 171.

[31] Lihat Membumikan al-Qur’an hal. 342.